Penggunaan jelantah (minyak goreng yang telah digunakan lebih dari satu kali penggorengan) merupakan hal yang biasa di masyarakat. Sebagian orang berpendapat makanan yang dicampur jelantah lebih sedap dan sebagian lagi karena keterdesakan ekonomi. Minyak yang dipanaskan secara berulang-ulang, menyebabkan proses destruksi minyak bertambah cepat.
Minyak jelantah merupakan minyak bekas pemakaian, bisa dalam kebutuhan rumah tangga, kebutuhan restoran dan lain-lain. Minyak ini meliputi minyak sawit dan segala minyak goreng lainnya. Bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik yang terjadi selama proses penggorengan.
Pada kegiatan sosialisasi dan demonstrasi yang dilakukan di desa tersebut, respon masyarakat tinggi serta antusias dalam pengolahan limbah, terutama dalam hal belajar mengolah minyak jelantah menjadi lilin dan sabun padat yang beraroma terapi. Author Biography Zipora Sembiring, Universitas Lampung
Minyak goreng bekas atau minyak jelantah (used cooking oil/UCO) biasa terbuang begitu saja. Padahal, minyak jelantah bisa bermanfaat sebagai bahan pengganti sebagian bahan baku crude palm oil (CPO) atau sawit dalam program biodiesel di Indonesia. Langkah ini, bisa kurangi limbah ke lingkungan hidup, berikan manfaat ekonomi, baik untuk kesehatan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca hingga
Ia bilang, PT INL hadir untuk memenuhi kebutuhan di Tanah Air dengan melakukan hilirisasi dalam produksi minyak sawit. Pihaknya berharap MoU itu nantinya visa membuat kedua pihak mampu mengembangkan industri sawit secara bersama agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dan hasilnya dapat memajukan Indonesia.
348w.
pabrik pengolahan minyak jelantah di medan